Hadiri Aksi Kamisan, Sejumlah Aktivis Ingin Jaga Kesaklaran Istana

Laporan wartawan Tribunnews, Ibriza Fasti Ifhami 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ratusan orang dari beberapa elemen masyarakat menggelar Aksi Kamisan ke-804 di seberang Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (1/2/2024).

Sebagian besar peserta Aksi Kamisan yang hadir mengenakan pakaian berwarna serba hitam. Beberapa di antara mereka membawa payung berwarna hitam.

Mereka juga terlihat membentangkan banner persegi panjang bertuliskan ‘Menolak lupa!!! Tuntaskan 12 Kasus Pelanggaran HAM Berat. Istana Bukan untuk Penculik’.

Diketahui, Aksi Kamisan merupakan sebuah aksi yang dilakukan setiap hari Kamis di depan Istana Negara yang dilakukan oleh keluarga korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan dilakukan sejak 18 Januari 2007.

Dalam Aksi Kamisan pada hari ini, selain mendesak penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu, mereka juga menyuarakan penolakan terhadap calon presiden Prabowo Subianto.

Seperti disampaikan oleh sejumlah orang menamakan diri Barisan Rakyat Indonesia Kawal Demokrasi (Barikade) 98 yang ikut dalam Aksi Kamisan tersebut.

Ketua Umum Barikade 98 yang juga Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengatakan, keikutsertaan pihaknya ini juga membawa niat untuk menjaga kesakralan Istana sebagai simbol kedaulatan rakyat.

Menurutnya, Istana tidak boleh dimasuki oleh orang yang diduga melakukan pelanggaran HAM masa lalu.

Dia menyebut pihaknya siap membentuk barikade untuk menjaga kesakralan Istana.

Mereka tak ingin Prabowo memasuki Istana Kepresidenan memimpin bangsa jika memenangkan Pilpres 2024.

“Prabowo dinyatakan melakukan tindak pidana dalam keputusan Dewan Kehormatan Perwira, ada 10 poin, di butir C dikatakan Prabowo melakukan tindak pidana penghilangan kemerdekaan dan penculikan kepada aktivis yang dilakukan oleh satgas Tim Merpati dan satgas Tim Mawar yang dipimpin oleh Prabowo,” ujar Benny.

Baca Juga  Yusril: Pihak yang Kalah di Pilpres Harusnya Selesaikan di MK Bukan Gunakan Hak Angket DPR

Baca juga: Wiranto Heran Setiap Pemilu Isu Pelanggaran HAM Selalu Muncul & Diarahkan ke Prajurit TNI

Kata Benny, meski sudah dinyatakan bersalah oleh internal TNI, Prabowo tidak diproses secara hukum. Oleh karena itu, ia menilai negara seakan-akan dibuat takluk oleh mantan Danjen Kopassus itu.

Dia melanjutkan, para aktivis menuntut agar dibentuknya peradilan HAM adhoc untuk mengadili Prabowo. Pihaknya tak ingin orang yang diduga melakukan pelanggaran HAM lainnya diberikan impunitas atau pembebasan dari hukuman.

Menurutnya, jika Prabowo ngotot untuk tetap berkuasa melalui jalur pemilu, maka hal itu berpotensi memunculkan reformasi 98 Jilid II.

Turut hadir dalam Aksi Kamisan ini Maria Catarina Sumarsih, ibunda dari mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat Tragedi Semanggi I, Benardinus Realino Norma Irawan



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *